Memaknai semboyan mendidik Ki Hajar Dewantara dalam bekerja


Tanggal 2 mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. Ki Hajar Dewantara telah menginspirasi tiga semboyan semangat dalam mendidik yakni ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani. Semboyan ini memiliki arti bahwa ketika didepan seorang pendidik harus memberi teladan. ketika ditengah harus menciptakan prakarsa dan ide, dan ketika dibelakang harus memberikan dorongan dan arahan.

Berbicara teladan, maka satunya perkataan dan tindakan serta menunjukkan contoh yang baik menjadi keharusan sebagai orang terdepan. Pemimpin tertinggi suatu institusi harus menunjukkan contoh yang baik dalam berperilaku maupun berfikir. Memiliki mental baik yakni tahan banting dan pantang menyerah, moral yang baik yakni terhindar dari perbuatan asusila maupun kriminal, dan  mindset yang baik yakni selalu berpositif terhadap setiap peristiwa. Didepan seorang pemimpin membangun nilai-nilai yang dibudayakan dalam organisasi. Sebagai pendidik tidak hanya memastikan muridnya bisa sesuatu, akan tetapi juga menjamin mereka berkarakter. Pembentukan karakter mereka dimulai dari mencontoh karakter kita.

Ide dan prakarsa perlu dikembangkan dalam rangka menterjemahkan nilai-nilai budaya kerja yang telah ditetapkan oleh pimpinan tertinggi. Sebagai "midle man" tidak sepatutnya memiliki karakter tumpul ke atas dan tajam ke bawah seperti pisau atau tajam keatas dan kebawah seperti silet. Merangkul atasan tanpa memukul bawahan, menstrategikan arahan atasan tanpa meresahkan bawahan, menegur tanpa menyinggung, menugaskan tanpa memaksa sehingga menjadi penyemangat bagi bawahan. Diperlukan konsultasi dengan atasan terkait ide yang akan kita lakukan. Banyak koordinasi untuk berdiskusi dan membangun penyamaan persepsi terhadap ide yang kita hasilkan. Dalam mengimplementasikan ide, kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mencapai output yang maksimal sangatlah penting. Seorang pendidik tidak selamanya lebih pintar dari anak didiknya,  murid tidak bisa kita anggap sebagai gelas yang kosong. Berdiskusi dengan mereka tidak akan menurunkan martabat kita sebagai pendidik, justru kita bisa menggali apa yang harus kita lakukan sesuai dengan kondisi mereka.

Tidak mendukung terhadap sebuah keputusan yang telah ditetapkan adalah hal yang lumrah. Setiap ada keputusan pasti ada pro dan kontra. Akan tetapi berpositif thinking bahwa setiap keputusan pasti sudah dengan pertimbangan tertentu, maka sebagai bawahan, mendukung menjadi suatu keharusan, terlepas sebuah keputusan pasti akan menyebabkan salah satu pihak dirugikan. Janganlah kita selalu bersikap  apriori terhadap hal yang sudah diputuskan pimpinan dengan mencari pembenaran (justifikasi) terhadap pemikiran kita yang berseberangan. Setiap hasil tidak akan membohongi usaha yang kita lakukan, "manjadda wajjada". Janganlah banyak mencari alasan (excuse) dalam mempertahankan sebuah keputusan kita. Kita seharusnya menghindarkan diri dari menyalahkan (blaming) setiap keputusan pimpinan tanpa mempelajari dulu dampak baik dan buruknya. "mendukung dengan membantu, tidak setuju janganlah ganggu".  





Rudy_Bogor

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama